Sosialisasi Teknik Pembuatan Pantun sebagai Media Pendidikan Karakter pada Guru Sekolah Bening Indonesia

Authors

  • Endang Sulistijani Universitas Indraprasta PGRI
  • Mirza Ghulam Ahmad Universitas Indraprasta PGRI
  • Sangaji Niken Hapsari Universitas Indraprasta PGRI

DOI:

https://doi.org/10.60012/dc.v4i1.178

Keywords:

Sastra, Pantun, Pendidikan

Abstract

Pantun termasuk dari bentuk puisi lama yang mempunyai batasan tertentu pada aturan bunyi, banyaknya larik dan baris, banyaknya suku kata. Pantun yang merupakan puisi lama berasal dari sastra Melayu. Namun, variasi dari pantun ini menyebar ke seluruh Indonesia. Diantaranya, pantun dari Jawa Barat, Jakarta, parikan dari Jawa Tengah, panton dari Sulawesi, wewangsalan dari Bali, dan masih banyak lagi. Hingga saat ini pantun sering digunakan dalam acara-acara resmi dan diucapkan saat membuka atau menutup suatu acara. Hal ini menandakan pantun sudah banyak dikenal oleh masyarakat baik muda ataupun tua. Namun, pantun yang diucapkan kadang tidak sesuai dengan aturan pantun itu sendiri, misalnya hanya terdiri dari 2 baris, atau tidak bersajak abab. Membuat pantun sebetulnya tidak terlalu sulit, jika dilakukan secara rutin. Misalnya, satu hari menulis satu pantun untuk dijadikan semangat dalam berkarya, dalam memulai aktivitas, atau untuk menyapa orang terdekat. Adapun dalam pencarian data pada pengabdian Masyarakat ini menggunakan teknik atau metode pembacaan pantun, tanya-jawab,diskusi, dan apresiasi pantun. Teknik atau metode yang digunakan dianggap tepat dan efektif pada pengabdian masyarakat ini.

References

Abubakar, R. (2021). Pengantar Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Suka Press.

Agustina, R., & Amelia, D. (2016). Analisis Struktur Fisik dalam Pantun dan Budaya. Sambas : Lingua.

Andriani, T. (2012). Pantun Dalam Kehidupan Melayu. Jakarta: Mizan.

Danandjaja, J. (1984). Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-lain. Jakarta: Grafiti Pers.

Dhakidae, D. (2006). Sampiran, Isi, dan Sisi-Sisi Kehidupan menurut Pantun. Jakarta: Buku Kompas.

Effeny, T. (2004), Tunjuk Ajar dalam Pantun Melayu, Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu, Yogyakarta: Adicita Karya Nusa

Junus, H. (2001). Pantun-Pantun Melayu Kuno, Pekanbaru: Yayasan Pusaka Riau. Mahayana,

Kemendiknas. (2011). Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional.

Maman S. (2005). Lebih Jauh tentang Pantun, Sembilan Jawaban Sastra Indonesia, Jakarta: Bening Publishing.

Mudra, M. A. (2008). Revitalisasi Pantun Melayu: Memangku Tradisi Menjemput Zaman. Dalam http://www.mahyudinalmudra.com/work/detail/274/RevitalisasiPantun Melayu-Memangku-Tradisi-MenjemputZaman diakses 8 Oktober 2019.

Munandar, U. (2009). Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta.

Murti, F. N. (2016). Model Threshold untuk Pembelajaran Memproduksi Pantun Kelas XI. Jakarta: PT Bhatara Karya Aksara.

Santoso, J. (2013). Pantun, Puisi Lama Melayu, dan Peribahasa Indonesia. Yogyakarta: Araska.

Wiguna, M. Z., Yuda, R. K., & Uli, I. (2017). Analisis Nilai-Nilai Pendidikan dalam Pantun Melayu Sambas. Cirebon : Nurjati Press

Yuliansyah, A. (2019). Struktur dan Fungsi Pantun dalam Upacara Adat Perkawinan Melayu Tanjung Hulu Kecamatan Pontianak Timur. Yogyakarta: Suka Press

Downloads

Published

2025-06-30

How to Cite

Sulistijani, E. ., Ahmad, M. G. ., & Sangaji Niken Hapsari. (2025). Sosialisasi Teknik Pembuatan Pantun sebagai Media Pendidikan Karakter pada Guru Sekolah Bening Indonesia. Darma Cendekia, 4(1), 108–115. https://doi.org/10.60012/dc.v4i1.178